Inilah Sejarah Kabupaten Brebes Jawa Tengah


Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. 
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA

A. Kabupaten Brebes didirikan oleh Trah Mataram, Surabaya, Cirebon dan Banten

Pada tanggal 15 Desember 1677 diselenggarakan rapat pemekaran kabupaten. Tempatnya di istana kasultanan Pakungwati Cirebon. Hadir saat itu perwakilan dari keluarga kerajaan Mataram yang beribukota di Kartasura. Hadir pula perwakilan Kabupaten Surabaya, Kabupaten Tegal, Kasultanan Cirebon dan Kasultanan Banten. Rapat ini terselenggara atas perintah Sri Susuhunan Amangkurat Amral yang memerintah di Kerajaan Mataram tahun 1677-1703.

Pemerintahan pusat mataram diwakili oleh Tumenggung Urawan dan Patih Nerang Kusumo. Kadipaten Surabaya diwakili oleh Pangeran Pekik dari Kanjeng Ratu Pandansari. Kabupaten Tegal selaku daerah yang akan dimekarkan diwakili oleh Pangeran Syamsudin Martawijaya. Kasultanan Banten diwakili oleh Ratu Syarifah Winaon, Maulana Arya Suranggana Hasanudin dan maulana Arta Surajaya Hasanudin.

Rapat agung para pembesar istana itu menghasilkan keputusan penting. Kabupaten Tegal sepakat untuk dimekarkan. Daerah pemekaran baru itu setingkat kabupaten. Daerah yang dimekarkan bernama Kabupaten Brebes, memiliki makna filosofis yang tinggi. Brebes berarti air yang selalu merembes pelan, tetapi cukup bisa membasahi. Kabupaten Brebes diharapkan akan memberi kesejukan, kedamaian, ketenangan kepada sekalian warga. Suasana yang aman damai, memungkinkan warga bekerja dan punya penghasilan. Kerja yang produktif mengantarkan pada negara yang adil makmur, murah sandang pangan dan papan.

Musyawarah yang dipimpin Patih Nerangkusumo itu berlangsung lancar, efektif dan efisien. Materi rapat sudah disiapkan matang oleh tim kecil dari Mataram. Agenda rapat hanya membahas soal-soal teknis yang perlu pengkajian bersama. Para utusan dari masing-masing instansi itu dipilih orang yang betul-betul handal, profesional, bermoral. Hampir tidak ada perdebatan yang berarti. Jalannya musyawarah sangat terib dan dalam suasana kekeluargaan. Semua sepakat untuk menetapkan Raden Ahmad Amirullah atau Pangeran Cahyo Kusumo sebagai Bupati Brebes dengan gelar Tumenggung Arya Suralaya.

Pertimbangan peserta rapat cukup meyakinkan. Raden Ahmad Amirullah atau Pangeran Cahyo Kusumo mempunyai kecakapan, kemampuan, kepribadian, kewibawaan, kecerdasan, ketrampilan, kejujuran, keluhuran, keagungan dan ketrampilan tinggi. Bahkan dinilai sangat memuaskan. Untuk ukuran jamannya, prestasi pangeran Cahyo Kusumo boleh dikatakan di atas rata-rata. Siapakah Raden Ahmad Amirullah atau Pangeran Cahyo Kusumo?

Trahing kusuma rembese madu. Dari segi geneologi sesungguhnya Pangeran Cahyo Kusumo adalah putra kandung Pangeran Abdul Wawrat Amirullah atau Pangeran Alit. Pangeran Alit adalah putra Sultan Agung Hanyokro Kusumo, raja Mataram 1613-1645. Jadi Pangeran Cahyo Kusumo merupakan cucu Sultan Agung. Dengan Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum masih keponakan. Dengan Sri Susuhunan Amangkurat Amral masih saudara sepupu. Posisi Pangeran Cahyo Kusumo terlalu kuat di Mataram. Lama bertugas sebagai carik atau sekretaris Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum, raja Mataram 1645-1677. Setelah kerajaan Mataram pindah ibukota dari Plered ke Kartasura, Pangeran Cahyo Kusumo aktif menyumbangkan tenaga dan pikiran.

Bibit bebet bobot. Perlu diketahui asal usul Pangeran Cahyo Kusumo dari jalur ibu. Pangeran Alit lahir dari istri Sultan Agung yang berasal dari Kesultanan Cirebon. Beliau bernama Kanjeng Ratu Siti Karimah atau Ratu Mas Tinumpak Ratu Kulon. Ibu Pangeran Alit ini adalah putri raja Cirebon, yaitu Kanjeng Sultan Abdul Karim. Sultan Cirebon ini sangat sayang pada putrinya, yaitu Ratu Mas Tinumpak. Bahkan beliau pada masa tuanya tinggal bersama Siti Karimah, Ratu Mas Tinumpak atau Kanjeng Ratu Kulon. Sultan Abdul Karim momong Pangeran Alit dengan sangat senang. Beliau wafat pada tahun 1585 saka atau 1622 masehi. Sultan Abdul Karim dimakamkan di Imogiri. Oleh karena itu beliau juga mendapat gelar Kanjeng Pangeran Girilaya. Dari sini jelas Pangeran Cahyo Kusumo benar-benar punya garis keturunan dengan Kasultanan Pakungwati Cirebon.

Pangeran Alit menikah dengan Ratu Syarifah Winaon. Beliau adalah putri Sultan Hasanudin, raja Kraton Surosowan Banten. Ratu Syarifah Winaon inilah yang melahirkan Pangeran Ahmad Amirullah atau Pangeran Cahyo Kusumo. Keterangan ini menunjukkan bahwa Pangeran Cahyo Kusumo cucu kandung Sultan Hasanudin, Raja Banten dari jalur ibunya, beliau mewarisi darah biru kasultanan Surosowan Banten.

Pangeran Pekik adalah Bupati Surabaya. Kehadiran Kabupaten Surabaya yang diwakili Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari ini amat penting. Beliau merupakan penguasa Bang Wetan yang punya jaringan bisnis luas. Pengusaha kaya dari Makassar, Banjarmasin, Tamasek Singapura, Samudra Pasai berhubungan erat dengan penguasa Surabaya. Pangeran Pekik menikah dengan ratu Pandansari, adik Sultan Agung. Jadi Pangeran Cahyo Kusumo masih terhitung kerabat dekat, cucu keponakan. Lagipula penguasa Surabaya ini yang menjadi sponsor pemekaran kabupaten di wilayah Kerajaan Mataram. Setelah tahun 1677 di Tanah Jawa memang banyak muncul kabupaten pemekaran.

B. Pangeran Cahyo Kusumo Dilantik menjadi Bupati Brebes dengan Gelar Raden Tumenggung Arya Suralaya

Upacara pelantikan Pangeran Cahyo Kusumo sebagai bupati Brebes pada tanggal 18 Januari 1678. Pelaksanaan upacara pelantikan langsung dipimpin oleh kanjeng Sinuwun Sri Susuhunan Amangkurat Amral. Datang dari ibukota Mataram Kartasura diiringi oleh segenap punggawa, abdi dalem, sentana pengageng kerajaan Mataram. Panitia harian dijabat oleh Tumenggung Pranantaka, Bupati Tegal.

Pelantikan Bupati Brebes begitu megah meriah. Maklum Pangeran Cahyo Kusumo punya hubungan dan kerabat yang luas, dapat dikatakan bupati Brebes merupakan figur penting yang menjadi harapan keluarga Mataram, Kadipaten Surabaya, Kasultanan Cirebon dan Kasultanan Surosowan Banten. Pesta pora dengan sajian makanan minuman beraneka ragam. Juragan kuliner Banten, Cirebon, Mataram, Surabaya datang dengan masakan khas. Suguhan mbanyu mili dan berlimpah ruah. Semua wagga Brebes menyambut suka gembira.

Untuk memperlancar tugas Tumenggung Arya Suralaya, Kabupaten Brebes diberi bekal sipat kandel oleh raja Mataram Kartasura. Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral memberi beberapa pusaka utama yang ampuh, utuh, wutuh dan amat berpengaruh.

1. Pusaka Tombak Kyai Bremorosari. 
Bila dipasang di tengah pendopo kabupaten, pusaka Tombak Kyai Bremorosari dapat mengusir penjahat. Bahkan semua orang yang berlaku curang akan tersingkir dengan sendirinya.

2. Bendera Gula Klapa Panji Arum.
Pusaka ini bila dikibarkan akan membuat masyarakat gumreget, gumregut, gumregah dalam bekerja. Makanya orang Brebes selalu produktif dan kreatif.

3. Gentha Slarang
Pusaka ini berguna untuk mengusir pagebluk, hama tanaman dan wabah penyakit. Suara Gentha Slarang amat merdu.

4. Ali-ali Karangmanju
Pusaka ini berguna untuk meyakinkan Bupati Brebes saat berdiplomasi. Lawan bicara akan merasa mendapat kehormatan sehingga terjadi interaksi dan komunikasi yang terjalin sifat welas asih. Ali-ali Karangmanju sejenis aji pengasihan.

Tumanggung Arya Surlaya selalu bertindak mulia. Beliau berusaha untuk mikul dhuwur mendhem jero atas perjuangan leluhur. Misalnya setiap bulan Ruwah Tumenggung Arya Suralaya melakukan tata cara nyadran di pasareyan Agung di Pakuncen, Adiwerno Tegal. Bupati Brebes ini nyekar di makam Kanjeng Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum. Perjuangan dan jasa Sri Susuhunan sangat besar bagi nusa bangsa. Pada tahun 1679 kunjungan ke makam Sinuwun Amangkurat Tegal Arum bersama dengan utusan kerajaan Mataram Kartasura.

Kunjungan kenegaraan yang penting adalah  saat penobatan Sultan Raja Syamsudin Martawijaya pada tahun 1679. Karena masih kerabat Kasultanan Cirebon, maka Bupati Arya Suralaya diundang. Bahkan beliau selalu dilibatkan dalam kepanitiaan upacara jumenengan. Kepemimpinan Tumenggung Arya Suralaya bagi masyarakat Brebes sungguh ideal. Budi pekerti bupati Brebes menjadi suri tauladan, tepa palupi bagi rakyat. Kabupaten Brebes menjadi wilayah yang subur makmur, gemah, ripah loh jinawi. Loh subur kang sarwa tinandur. Jinawi murah kang sarwa tinuku. 

Pada tahun 1714 Sinuwun Paku Buwono I, Raja Mataram Kartasura berkunjung ke Brebes. Raja Mataram ini berziarah ke makam Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum, lantas mengunjungi Bupati Brebes, Tumenggung Arya Puspanegara I. Saat kunjungan ini beliau sempat berbicara tentang peningkatan usaha budidaya bawang merah sebagai produk unggul Brebes. Wong Brebes ber bandha, ber bandhu. 

Permaisuri Sinuwun Paku Buwono I bernama Kanjeng Ratu Mas Balitar. Beliau begitu terkesan melihat ketrampilan masayrakat Brebes membuat industri telur asin. Kanjeng Ratu Mas Balitar mengajar Nyonya Bupati Puspanegara I untuk turut memasarkan telur asin khas Brebes ke ibukota Kartasura. Istri raja Mataram ini membantu di bidang marketing. Produk telur asin dan bawang merah Brebes semakin terkenal. Sembada kang sinedya, jumbuh kang ginayuh. 

Bupati Brebes pada tahun 1812 sowan ke kraton Surakarta Hadiningrat. Beliau adalah Tumenggung Arya Singasari Panalayuda I. ketika itu ada acara sarasehan pembinaan budi pekerti luhur lewat Serat Wulangreh. Tim rombongan kabupaten Brebes ingin meningkatkan kualitas mental spiritual masyarakat dengan kesadaran literasi. Dengan kesadaran literasi konsep humanisme perlu digali melalui karya sastra yang bermutu. Serat Wulangreh menawarkan ajaran luhur bagi generasi muda. Pra taruna angudia, saniskara sangune sagung dumadi. 

Peningkatan ekonomi yang berbasis agrobis terjadi pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana IX. Beliau mengajak Tumenggung Cakraatmaja untuk menggalakkan perkebunan. Pada tahun 1879 Bupati Brebes diajak studi banding di perkebunan teh Ampel Boyolali, perkebunan kopi Kembang Semarang dan perkebunan Tembakau Tegal Condro Klaten. Warga brebes banyak yang menjadi pegawai perkebunan setelah mendapat pelatihan dan pendidikan agrobisnis, among dagang ing pasar. 

Wanita wani mranata. Buat ibu-ibu ketrampilan industri rumah tangga memang penting. Pada tahun 1923 Bupati Brebes, Aryo Purnomo Hadiningrat mengundang ahli batik dari Karaton Surakarta Hadiningrat. tim istana kraton Surakarta memberi pelatihan manajemen produksi dan pemasaran. Kebetulan sekali Aryo Purnomo Hadiningrat adalah menantu Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat. Kabupaten Brebes semakin arum kuncara, sejahtera lahir batin.

C. Para Bupati Brebes yang Selalu Berdarma Bakti Kepada Bangsa dan Negara 

1. Tumenggung Arya Suralaya 1678-1711. Dilantik oleh Sinuwun Amangkurat Amral, raja Mataram. 

2. Tumenggung Pusponegoro I 1711-1741. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram. 

3. Tumenggung Pusponegoro II 1746- 1778. Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono II, raja Surakarta Hadiningrat. 

4. Tumenggung Pusponegoro III. 1778-1801.
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono IV raja Surakarta Hadiningrat. 

5. Arya Singasari Panatayuda I 1801-1836. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat. 

6. Arya Singasari Panatayuda II 1836-1856. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat. 

7. Arya Singasari Panatayuda III 1856-1876. Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat. 

8. Tumenggung Cakraatmaja 1876-1880. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat. 

9. Tumenggung Cakranagara I 1880-1885. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat. 

10. Tumenggung Cakranagara II 1885-1907. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat. 

11. Tumenggung Cakranagara III 1907-1921. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku X, raja Surakarta Hadiningrat. 

12. Aryo Purnomo Hadiningrat 1921-1929. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. 

13. R. Sajikun 1929-1931. 
Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. 

14. Arya Sutirta Pringga Haditirta 1931-1942. Dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono X, Raja Surakarta Hadiningrat. 

15. R Sunaryo. 1942-1945. 
Dilantik jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono XI. 

16. Sarimin Reksodiharjo 1945-1946. 
Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

17. KH Syatori 1946-1947
18. R Awal 1947-1947. 
Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

19. Agus Miftah 1947-1948. 
Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

20. R Sumarno 1948-1450. Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

21. Mas Slamet 1950-1956. Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

22. R Mardjaban 1956-1966. Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

23. Sartono Gondo Soewandito SH 1967-1979. 
Dilantik jaman Presiden Soekarno. 

24. Kol. Syafrul Supardi 1979-1989. 
Dilantik jaman Presiden Soeharto. 

25. Kol. Hardono 1989-1994. 
Dilantik jaman Presiden Soeharto. 

26. Syamsudin Sagiman 1994-1999. 
Dilantik jaman Presiden Soeharto. 

27. M Tadjudin Noor Aly 1999-2002. 
Dilantik jaman Presiden Habibie. 

28. Indra Kusuma 2002-2010. 
Dilantik jaman Presiden Megawati. 

29. Agung Widiyantoro 2010-2012. 
Dilantik jaman Presiden SBY. 

30. Hj.  Idza Priyanti SE 2012. Dilantik jaman Presiden SBY dan Presiden Joko Widodo. 

Kabupaten Brebes memiliki perjalanan sejarah yang gemilang. Kawibawan kawidadan kamulyan kabagyan lan karaharjan menyertai masyarakat dari kutha ing ngakutha, desa ngadesa, gunung ngagunung. Selama ini rakyat Brebes sudah merasakan jaman kencana rukmi. 

Ditulis oleh Purwadi, 8 Juni 2020

Related Posts: